Kamis, 31 Maret 2011

TELAH TERBIT

Judul Buku           : Memelihara & Menangkar LOVEBIRD
Penulis                  : Budi Prawoto
Halaman/Kertas   : 76 hal; eksclusive art paper 80gr; full colour
Ukuran                  : 140mm x 210mm
Penerbit                 : KITA Yogyakarta
ISBN                      : 9786029897203
Harga                     : Rp 50.000,- (Jawa) Rp 55.000,- (Luar Jawa)


SINOPSIS

Buku "Memelihara & Menangkar LOVEBIRD" mengupas tuntas tentang lovebird, mulai dari pengenalan sembilan (9) jenis lovebird, meliputi kehidupan mereka di alam liar, habitat, endemik, kebiasaan dan fakta-fakta biologi yang dimiliki oleh tiap-tiap jenis lovebird tersebut. Pengetahuan tentang tabiat dan tingkah laku asli mereka di alam liar dapat menjadi rujukan untuk memahami lovebird ketika mereka berada di lingkungan rumah kita sebagai burung peliharaan ataupun burung yang kita tangkarkan.

Selain itu, kiat-kiat memilih lovebird yang memiliki "katuranggan" bagus sebagai calon indukan lovebird pun diuraikan dalam buku ini. Bagaimana menjodohkan lovebird, suplai makanan yang pas, menyediakan tempat dan suasana yang tepat bagi mereka sangat perlu dipahami bagi mereka yang tertarik untuk menangkarkan lovebird. Mutasi warna sebagai salah satu daya tarik lovebird, khususnya mencetak Lutino dibahas dalam Bab Menangkarkan Lovebird, berikut beberapa contoh mutasi warna yang ditemukan pada berbagai jenis lovebird yang umum terdapat di Indonesia, mulai dari jenis Roseicollis, Fischeri dan Personata.

Hand feeding atau membesarkan anakan lovebird dengan bantuan tangan manusia diulas mulai dari umur penyapihan, perlengkapan melakukan HF, hingga meracik ramuan dan jadwal HF terdapat dalam buku ini pada sub bab Hand Feeding Lovebird.

Tentunya terdapat beberapa kendala dalam memelihara dan menangkarkan lovebird. Beberapa kendala penangkaran hingga penyakit yang umum menyerang lovebird diulas pada bagian akhir buku. Tentunya bukan hanya informasi, namun juga bagaimana mengatasi kendala-kendala dan penyakit tersebut.

Buku ini semakin nyaman dan mudah untuk difahami, karena pada bagian-bagian informasi yang penting dilengkapi dengan image atau foto-foto yang representatif.

Contact info pemesanan dan pembelian: 085 725 175 333

Cara pemesanan dan pembelian: 
  1. Konfirmasikan transfer, nama dan alamat lengkap via sms atau call ke 085 725 175 333
  2. Buku akan terkirim via POS KILAT KHUSUS  dengan lama tempuh maksimal 3 hari.

       

 

Minggu, 29 November 2009

Sexing Lovebird




Terdapat sembilan spesies lovebird (LB) yang keseluruhannya berasal dari benua Afrika. Tiga spesies (Abyssinian, Madagascar dan Red Faced) tergolong dalam sexing dimorphic. Dimorphic artinya jenis kelamin burung-burung tersebut dapat dengan mudah dikenali dengan melihat, mengamati fisik burung tersebut. Namun untuk enam jenis burung LB yang lain tergolong non-dimorphic, artinya jenis kelamin burung-burung tersebut tidak dapat dikenali hanya melalui penglihatan. Jadi,  meskipun Anda memiliki “sepasang” lovebirds belum tentu mereka adalah benar-benar terdiri dari seekor burung jantan dan seekor burung betina. Uniknya, LB, meskipun berjenis kelamin sama mereka juga menunjukkan perilaku seperti sepasang burung jantan dan betina. LB dengan jenis kelamin sama juga saling menyuap makanan, menyisir bulu (didis; bhs jawa red), tidur berdempetan, bahkan merekapun mengerami telur (jika keduanya berkelamin betina). Intinya mereka dapat melakukan perilaku seperti sepasang burung jantan dan betina, padahal mereka berkelamin sama!

LB yang tergolong non-dimorphic adalah jenis Peachfaced, Masked, Fischers, Black cheeked, Nyasa dan Black Collared. Pertanyaannya adalah, “Bagaimana mengenali jenis kelamin jenis-jenis LB tadi?”. Catatan di bawah ini dapat digunakan sebagai panduan untuk mengenali jenis kelamin LB. Hal tersebut dapat dilakukan dengan uji coba pada LB yang sudah matang seksualitasnya. Tanpa menggunakan sexing ilmiah, sepasang LB dapat diketahui jantan dan betina nya:

• Jika salah satu burung mengerami telur, maka dia jelas berjenis kelamin betina.
• Jika telur yang dierami menetas, maka jelas pula LB pasangannya adalah jantan.


Namun sekali lagi, selalu terdapat pengecualian dalam dunia LB. Terdapat pula LB berjenis kelamin betina yang tidak pernah mengerami telur, atau LB jantan yang tidak dapat membuahi telur. Atau dapat pula terjadi meskipun sudah jelas jantan dan betina, namun tidak jodoh, sehingga membutuhkan pasangan baru. Bagi LB, dan mungkin sebagian besar jenis burung lain, proses perjodohan hingga perkawinan burung harus matang secara sexual. LB betina siap untuk mulai bertelur dan melakukan pengeraman mulai umur 10 hingga 12 bulan.


Terdapat beberapa metode sexing yang tidak bersifat ilmiah yang sering dilakukan oleh beberapa penangkar LB. Mulai dari bentuk dan ukuran kepala, posisi kaki burung bertengger (posisi kaki rapat atau lebar), rongga tulang pelvic (supit udang) hingga bentuk bulu ekor burung (menciut atau melebar). Dapat pula diamati perilaku burung. Hormon burung betina yang sudah cukup matang akan menunjukkan perilaku agresif dan sangat mungkin menyerang burung lain atau hal lain yang mengganggu daerah atau sarangnya.

Sebaliknya burung jantan lebih menunjukkan perilaku tenang dan tidak begitu agresif. Semua hal yang diutarakan di atas adalah cara-cara yang tidak ilmiah. Artinya akurasi atau ketepatan sexing tidak dapat dijamin seratus persen. Terdapat beberapa pengecualian diantara burung yang satu dengan yang lain.

Sexing secara ilmiah dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan tes DNA dan operasi. Tes DNA dilakukan dengan menggunakan sample darah yang dapat diambil dari beberapa tetes darah dari kuku burung. Sedangkan cara operasi dilakukan dengan cara membius burung dan membuat sebuah irisan kecil di sisi sebelah kiri tubuh burung. Dengan metode operasi akan dapat dilihat dengan kasat mata keberadaan indung telur burung tersebut. LB betina jelas akan terlihat memiliki organ indung telur.

LB biasa mengerami empat hingga enam butir telur di sarangnya. Cara terbaik untuk membuat telur-telur menetas adalah dengan membiarkan telur-telur tersebut sebagaimana adanya. Biarkan sang induk dalam kondisi aman dan tenang dalam mengerami telur-telur tersebut. LB termasuk burung yang cerdik dan teliti. Mereka dapat menghitung jumlah telur yang mereka erami. Memindah atau mengurangi telur dalam sarang akan membuat LB mengganti telur-telur yang hilang. Keduanya bergantian mengerami telur-telur tersebut. Ketika betina LB mengetahui telur-telur nya tidak akan menetas, maka segera dia akan berhenti mengeraminya.

Diterjemahkan bebas dari tulisan Kathy Vozzo dari KLM Aviary

Senin, 23 November 2009

Suara-suara Tiruan Burung



Menjiplak atau meniru suara-suara dari jenis atau spesies lain merupakan salah satu cara burung berkicau memperkaya khasanah nyanyian mereka. Kekayaan khasanah nyanyian juga membuat daya tarik yang lebih bagi lawan jenis. Burung-burung berkicau dapat membuat variasi nyanyian dengan mengubah urutan lagu, pengulangan urutan atau frase hingga menghasilkan nyanyian yang lebih merdu. Burung-burung kicauan hutan tropis yang tersohor memiliki kemampuan untuk meniru adalah murai batu, cucak hijau, anis merah, anis kembang, burung beo, jalak dan masih banyak lagi.

Starling (burung jalak) di kepulauan Shetland Scotlandia terkenal menirukan suara-suara kambing mengembik; di Oxford, Inggris, mereka menirukan deru suara bus. Burung lyre (lyrebird) yang dijumpai oleh Sir David Attenborough di pedalaman hutan kayu di Australia adalah burung peniru yang paling lihai. Burung tersebut dapat menirukan 12 jenis suara burung lain. Selain itu suara kokangan kamera pun dapat dia tirukan dengan tepat. Suara mesin mobil dan klason mobil pun menjadi perbendaharaan lagunya. Suara gergaji mesin pun dia tirukan sebagaimana suara aslinya. (terjemahan bebas dari Life of birds by David Attenborough, Sumber gambar: http://www.abdn.ac.uk/~nhi708/classify/animalia/chordata/aves/passeriformes/lyrebird.jpg)

Rabu, 11 November 2009

Kanibalisme dalam dunia burung. Mengapa dapat terjadi?


Tingkah laku burung terkadang mengejutkan dan menimbulkan tanda tanya besar dalam benak kita. Sering kita bertambah bingung karena tidak tahu apa penyebabnya dan apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya. Salah satu perilaku burung yang seringkali membuat kita, para pencinta burung, resah dan khawatir adalah perilaku kanibal. Mencabut bulu mereka sendiri hingga habis, membunuh anakan sendiri dan perilaku lain yang bersifat agresif terhadap burung yang lain.

Jawaban ilmiah yang dapat disampaikan berdasarkan penelitian para ahli melalui riset atau kajian teknis terhadap pertanyaan, “Mengapa kanibalisme dapat terjadi dalam dunia burung?” adalah adanya PROSES BIOLOGIS DALAM TUBUH BURUNG MEMPENGARUHI PERILAKU BURUNG.

Ketika burung berkicau telah sempurna dengan bulu dewasa maka secara bertahap mereka mulai memproduksi hormon testosteron dalam jumlah yang lebih banyak. Hormon dalam tubuh burung ini akan menghasilkan perilaku frekuensi kicauan burung jantan, agresivitas terhadap burung jantan yang lain dan memulai ketertarikan terhadap burung betina. Hormon tersebut membuat burung menjadi lebih berlibido tinggi dan memiliki naluri untuk mendominasi.


Proses selanjutnya adalah setelah sang jantan berhasil menguasai atau memiliki daerah kekuasaan dan berhasil mendapatkan pasangannya, maka bersama pasangannya sepasang burung tersebut akan segera memulai babak baru dalam fase baru dalam kehidupan mereka, yaitu pembuatan sarang hingga akhirnya berdua merawat anak-anaknya.

Pada fase telur menetas dan perawatan anakan secara alami kondisi tingkat hormon testoteron pada burung rendah atau turun. Hormon yang mendominasi adalah hormon yang mendukung naluri mengurus anakan mereka (hormone prolactin). Jadi itulah yang sebenarnya terjadi. Ketika sepasang burung mulai mencari tempat yang pas guna meletakkan sarang, membuat sarang dan mengerami telur, tingkat hormon testoteron secara berangsur menurun dan digantikan dengan hormon prolactin. Hormon prolactin inilah yang akan mempengaruhi tingkah laku burung menjadi pengasuh bagi anak-anaknya.

Prolactin akan tetap menjadi hormon yang mendominasi dalam tubuh burung betina dan jantan pada masa mengeram hingga telur menetas. Dengan ketersediaan hormon prolactin dalam diri mereka, maka pasangan tersebut akan merawat dan menyuap anak-anak mereka dengan baik. Permasalahan muncul manakala tingkat prolactin turun namun hormon testoteron meningkat (naik) ketika sang betina mengeram atau telur mulai menetas. Meningkatnya hormon testoteron membuat pasangan tersebut memiliki libido tinggi dan bernaluri untuk memproduksi lagi telur-telur baru. Hormon testoteron inilah yang membuat mereka tidak mengenali lagi telur-telur yang mereka erami atau anakan-anakan mereka sendiri yang baru saja menetas. Konsekuensi dari peningkatan hormon testoteron inilah yang membuat mereka merusak telur dan membunuh anak-anaknya sendiri (naluri mereka tidak mengenali telur dan anak-anak tersebut adalah keturunannya).

Sangat dipercayai bahwa meskipun burung-burung tersebut berada di dalam kandang penangkaran yang ideal dengan perawatan yang cukup, namun meningkatnya hormone testoteron di dalam tubuh burunglah yang menjadi penyebab utama mereka menjadi kanibal. Asumsi tersebut diperkuat dengan fakta bahwa dalam selang waktu beberapa hari setelah mereka memecah, menyingkirkan telur dari sarang atau membuang anakan-anakan mereka, maka sang betina segera mengerami telur barunya.

Penyebab lain atau faktor external yang dapat membuat pasangan burung menjadi kanibal adalah kurangnya asupan makanan tertentu yang mereka butuhkan untuk menyuap anak-anak mereka, gangguan yang sering dilakukan oleh manusia, hewan-hewan penganggu (tikus, kucing, bahkan kutu).

Sumber : http://www.shama.com.sg/q&a_1.html

Selasa, 10 November 2009

Bagaimana seekor burung belajar bernyanyi?


Kozhevnikov melakukan penelitian yang berfokus pada “apa yang terjadi dalam otak burung ketika mereka bernyanyi”. Dengan sample burung Zebra Finch dan Bengales finch (keduanya umum dipelihara oleh manusia), dia berharap dapat mempelajari lebih jauh tentang hubungan antara syaraf otak burung dan proses belajar bernyanyi burung.

Hanya sedikit binatang yang mampu mendengarkan suara dan mereproduksinya, seperti halnya kita manusia. Burung, kelelawar, ikan paus dan lumba-lumba adalah contoh “para pereproduksi suara”. Burung berkicau belajar bernyanyi dengan cara yang sama sebagaimana seorang bayi belajar berkata-kata. Seekor burung berkicau bahkan dapat menirukan suara bayi yang sedang belajar berbicara. Beberapa spesies burung berkicau dapat menguasai beberapa suara dan belajar untuk merangkaikan suara-suara tersebut dengan urutan-urutan yang berlainan, sebagaimana halnya manusia belajar merangkai kalimat yang berbeda dengan beberapa kata yang sama.

Dengan menggunakan sebuah media kecil dan ringan yang tidak mengganggu si burung untuk tetap bernyanyi di sangkar Kozhevnikov mengukur sinyal elektrik dari syaraf daerah otak burung yang digunakan untuk menghasilkan nyanyian. Daerah otak tersebut disebut dengan vocal center (pusat vocal). Kozhevnikov menemukan bahwa burung tersebut memiliki kemampuan untuk mengulang ritme yang sama dalam hitungan millisecond, artinya seratus kali ketukan ritme per detik nya.

Jam biologis burung berjalan dengan sangat tepat. Meskipun syaraf bukanlah suatu organ yang selalu tepat dan pas, namun alam telah membuat jalinan syaraf otak burung benar-benar pas dan tepat. Ditinjau dari kajian khasanah ilmu mesin dan syaraf, apa yang dimiliki oleh burung adalah suatu hal yang sangat mengagumkan.

Susunan otak burung tidak sama dengan susunan otak manusia. Terdapat banyak bukti bahwa banyak sekali kecanggihan dunia teknik mesin di dalam kepala burung yang mungil tersebut.

“Ukuran kepala tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan kecerdasan,” kata Kozhevnikov. “Sebuah lagu yang dilagukan burung adalah sebuah rangkaian dari beberapa aktivitas. Bila diukur dari kemampuan seekor burung dalam mempelajari rangkaian-rangkaian tersebut, otak burung menunjukkan bukti berbagai kemampuan yang sangat menakjubkan”.


—Lisa Duchene

Alexay Kozhevnikov, Ph.D., is an assistant professor of physics and psychology in the Eberly College of Science. His e-mail is aak10@psu.edu.